Semua pasti udah tau dong apa itu MSG alias Monosodium glutamat. MSG emang biasanya ga pernah absen di rak dapur. MSG adalah salah satu jenis penyedap rasa pada makanan, biar makanan jadi tambah enak. Sebetulnya ada penyedap rasa lain lho yang biasa digunakan industri pangan. Misalnya disodium inosinat atau IMP dan disodium guanilat atau GMP. Tapi MSG yang paling terkenal dan disukai orang karena harganya murah dan efektif dalam menguatkan rasa.
MSG yang berupa bubuk putih yang sekilas terlihat seperti garam galus adalah zat yang cepat larut dalam air. Apabila sudah larut MSG akan terurai menjadi natrium dan glutamat. Glutamat sendiri merupakan asam amino nonesensial yang ditemukan dihampir semua protein. Di Amerika
Serikat, MSG termasuk dalam daftar bahan makanan yang aman menurut Food and Drug Administration.
Komite Ilmiah Uni Eropa juga menilai MSG sebagai zat makanan yang aman.
Di Jepang, MSG adalah zat aditif makanan yang boleh digunakan tanpa
pembatasan. Di Indonesia sendiri, MSG termasuk bahan makanan yang
dianggap aman oleh BPOM.
Nah, klo gitu kenapa banyak orang menghindari MSG??? Mungkin dikarenakan beberapa temuan efeksamping penggunaan MSG, antara lain:
a. Efek pada wanita hamil dah menyusui
Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 – 50 kali lebih besar dari kadar normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara intravena. Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat badan, mungkin kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak dalam ASI.
Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 – 50 kali lebih besar dari kadar normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara intravena. Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat badan, mungkin kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak dalam ASI.
Batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO
(World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120
mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG
yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per
hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan
penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu (Anonimous 2001).
b. Kanker
MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya dari sudut
pandang berikut. Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat pemanasan
dengan suhu tinggi dan dalam waktu lama. pirolisis ini sangat
karsinogenik. Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah MSG pun,
bisa juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu
tinggi dan dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein,
seperti triptopan, penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami
pirolisis dari penelitian tadi jelas cara memasak amat berpengaruh.
c. Alergi
MSG tidak mempunyai potensi untuk mengancam kesehatan masyarakat umum,
tetapi juga bahwa reaksi hypersensitif atau alergi akibat mengkonsumsi
MSG memang dapat terjadi pada sebagian kecil sekali dari konsumen.
Beberapa peneliti bahkan cenderung berpendapat nampaknya glutamat bukan
merupakan senyawa penyebab yang efektif, tetapi besar kemungkinannya
gejala tersebut ditimbulkan oleh senyawa hasil metabolisme seperti
misalnya GABA (Gama Amino Butyric Acid), serotinin atau bahkan oleh
histamin (Winarno 2004).
Jadi...dari uraian ditas dapat disimpulkan MSG aman dikonsumsi, asal penggunaannya jangan berlebihan. MSG sebaiknya tidak diberikan bagi orang yang tengah
mengalami cidera otak karena stroke, terbentur, terluka, atau penyakit
syaraf. Selain itu anak-anak lebih rentan terhadap efeksamping MSG daripada orang dewasa. Batasan aman yang pernah
dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization),
asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120 mg/kg berat badan. Karena itulah beberapa orang lebih memilih tidak mengkonsumsi MSG. Mungkin karena sulitnya menakar kandungan MSG yang ada di makanan, atau untuk menghindari efek negatif yang ditimbulkan, atau agar makanan lebih aman dikonsumsi oleh anak-anak. Toh tanpa MSG makanan yang dimasak dapat terasa lezat, yaitu dengan manambahkan gula pasir dan garam dengan takaran tertentu dijamin rasa masakan anak menjadi gurih.
Sumber literatur:
www.duniaveteriner.com
www.majalahkesehatan.com